Obrolan Pekan Ini: Tersesat

Kemajuan teknologi yang pesat belakangan ini memang bagaikan sebuah pisau dapur. Ia dapat sangat berguna bagi kehidupan ibu-ibu rumah tangga manakala dipakai untuk memotong terong. Akan tetapi ia dapat pula menjadi barang yang sia-sia manakala pisau dapur itu menjadi tumpul.

Sebagaimana intro atawa paragraf pembuka di atas, kisah berikut ini adalah sebuah contoh yang bodoh bagaimana seorang anak manusia \bukan anak jerapah bukan pula anak batu\ menjadi linglung manakala “pisaunya” telah tumpul dan karatan.

Pada suatu sore yang mendung, seorang bocah, sebut saja dia Adi, hendak pulang ke rumah dari kantornya . Pada saat itu kondisi jalanan sedang macet-macetnya dikarenakan Si Komo sedang lewat. Maka, pikir Adi, daripada sampai di rumah kemalaman dan capai terjebak kemacetan kalau lewat jalannya bus, Adi akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki dan mengambil jalannya si tikus.

Setelah bermenit-menit berjalan menyusuri jalan yang baru pertama kali dilalui, si Adi pun kebingungan. Sepertinya dia tersesat. Tanpa panjang pikir, si Adi membuka ranselnya dan mengambil peta \dengan satu huruf t\. Jalan yang dilewati si Adi ternyata tidak tergambar dalam peta. Alhasil si Adi pun mengeluarkan telepon genggam barunya yang memiliki fitur peta \dengan satu huruf t\ elektronik. Rupanya telepon genggamnya itu tidak berdaya karena seharian tidak diberi makan.

Untunglah ada seorang tua pribumi yang lewat di sekitar Adi. Seakan menemukan lampu wasiatnya Aladin, Adi pun menggosok-gosok dahinya lantas menghampiri si tua pribumi tadi. Maka terjadilah sebuah percakapan berikut ini:

Adi:
“Maaf, Pak. Jalan ini tembusnya lewat mana, ya?

Orang Tua Pribumi:
“Memangnya adek mau kemana?”

Adi:
“Ke rumah, Pak. Saya gak tahu jalannya.”

Orang Tua Pribumi:
“Oh, kalau mau ke rumah, adek jalan lurus aja sampai mentok. Terus belok ke kanan. Yang di depannya ada pohon duren itulah rumah saya.”

Demikianlah. Ternyata teknologi yang kehabisan baterai dapat menyesatkan kita.

Sekian. Terima kasih.

(Terinspirasi dari Irrr)

6 pemikiran pada “Obrolan Pekan Ini: Tersesat

  1. hahhaahha
    nyampe ke rumahnya si orang tua itu jadinya…
    yang goblok (dengan satu l) itu sebenarnya sapa sih?
    Si Adi apa yang nulis baca jawab ? hahaha

    EM

    Suka

    1. Sebenarnya bisa mengandalkan orang pribumi atau para pedagang kaki lima, Bu. Biasanya mereka kooperatif, kok. Tapi keandalannya tidak dapat 100% kita pegang, karena bisa jadi mereka salah tanggap dengan maksud kita, atau bisa jadi mereka tidak bisa memberikan petunjuk-petunjuk dengan cara yang benar dan dipahami oleh kita.

      Lebih baik mengandalkan bintang, Bu. Agar tidak tersesat di lautan lepas. (doh) šŸ˜€

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s