Inflasi Lebar Lebaran

Adalah sesuatu yang lazim, barangkali, apabila sehabis lebaran (Idulfitri) warung-warung makanan seakan berlomba-lomba menaikkan harga.

hatta, soekarno, buzz lightyear
Hatta, Soekarno dan Buzz Lightyear

Warung nasi goreng langgananku, misalnya, menaikkan harga seporsi nasi goreng ayam dari Rp11.000,00 menjadi Rp13.000,00 (naik 15% lebih). Warung gado-gado, menaikkan harga sebungkus gado-gado dari Rp10.000,00 menjadi Rp12.000,00 atau naik persis 20%.

Belum lagi warung padang yang menaikkan harga sebungkus nasi padang dengan lauk ayam goreng dan terong balado dari Rp13.000,00 menjadi Rp15.000,00. Itu artinya apa, Saudara? Kenaikannya lebih dari 13%!

Lain lagi dengan warteg alias warung tegal. Semua menunya dinaikkan rata-rata Rp1.000,00. Dari yang biasanya aku membeli seporsi nasi bungkus di situ seharga Rp10.000,00, maka sekarang untuk menu yang persis sama aku harus mengeluarkan tambahan uang dua ribu rupiah. Apa hal?!

Warung pecel lele? Sepiring nasi uduk dengan ayam goreng dan lalapan dari yang tadinya Rp12.000,00 menjadi Rp15.000,00! Belum berani saja aku mencoba ke warung mi aceh, barangkali naiknya harga lebih gila lagi mengingat ia pakai daging sapi yang mana pada beberapa hari belakangan daging sapi langka di pasaran, pembatasan impor, harganya melonjak tajam, para pedagangnya mogok, dsb.

Di Pekalongan, tempat kujalani masa kecilku, ada dikenal “harga lebaran”. Yaitu harga makanan memang sengaja dinaikkan berhubung hari raya. Beberapa hari sesudah hari raya, harga kembali normal. Tetapi di Jakarta ini, barangkali hanya di sini ini, harga naik sesudah lebaran adalah sebuah kemutlakan. Ia tidak akan pernah turun.

Tetapi janganlah kelamaan berkeluh kesah. Semangatlah, karena dengan begitu kita akan bekerja lebih giat hingga menaikkan jumlah rupiah yang kita dapat. :D

Sesal Tiada Gondrong

Manusia itu makhluk visual yang aneh. Kan? Fenomena ini baru-baru ini aku alami, Saudara.

Tentulah kalian sudah tahu dari postingan Can’t Stand Me kalau aku sudah memangkas rambut gondrongku. Pujian pun berdatangan. Tentu sudah banyak yang mengatakan bahwa aku tampan. Ketika masih gondrong kemarin, satu demi satu dari mereka ini yang mengundurkan diri. Akan tetapi demi hilangnya rambut gondrongku ini, malah bertambah lagi orang-orang yang mengutarakan ketampananku itu.

Aku tetaplah aku, bilamana pun rupa rambutku. Kegondrongan tidaklah mengubahku menjadi lebih jahat atau lebih baik. Memang hanya mengubahku menjadi lebih keren sedikit, tetapi itu pun tidak semua orang bersepakat.

Sesal tiada gondrong
Sesal tiada gondrong

Aku menyengaja untuk memperlama masa kegondronganku kemarin agar tercipta citra gondrong di mata masyarakat. Setelah kurasa cukup lama kuendapkan citra tersebut, maka aku pun memutuskan untuk mengakhirinya agar bisa kulihat bagaimana sesungguhnya perilaku manusia visual terhadap perubahan citraku yang drastis ini. Continue reading “Sesal Tiada Gondrong”

Side Effects

Belakangan ini banyak berjumpa dengan sakit. Dengan demikian terpaksalah banyak berjumpa pula dengan obat. Dan kalian tahu bersama apa biasanya obat datang? Bersama sebuah cerita!

Seperti apa yang dikatakan oleh Phoebe: “Oh, look, it comes with a story.”

Jadi suatu hari Phoebe mengeluhkan kepalanya sakit. Lalu Monica memberinya sebutir obat. Lalu redalah sakit kepalanya si Phoebe. Hingga kemudian Phoebe mengetahui bahwa dalam bungkus obat tadi menyertakan brosur yang salah satunya berisi efek-efek samping dari si obat. Takutlah si Phoebe bahwa ia akan terkena efek-efek samping tersebut. Dan selanjutnya, dan selanjutnya.

Intinya adalah, bersama obat, selalu ada kemungkinan efek samping.

Sedikit cerita sampingan. Jadi aku meminum obat pereda batuk. Efek sampingnya katanya adalah diare. Maka aku pun terkena diare. Aku pun meminum obat pereda diare. Efek samping yang tertera adalah konstipasi. Maka aku pun konstipasi. Demi berhajat, aku pun berusaha lebih keras sampai terbatuk-batuk. Maka haruskah aku mengulang meminum obat pereda batuk?

Obat-obat dan lain-lain
Obat-obat dan lain-lain

Ada pula cerita sampingan mengenai efek samping yang lain. Kan kalian tahu kalau sudah tiga bulan lebih aku tidak potong rambut? Segala kegondrongan ini adalah keinginanku sendiri. Akan tetapi suatu hari aku ditegur oleh pak bos atas ketidakrapian rambutku. Disuruhnya pun aku memangkas rambut. Continue reading “Side Effects”

Gondrong

Aku sudah pernah menceritakan betapa rambutku ini memiliki kualitas yang bagus di tulisan Teori Kepribadian dan Rambut Chrisye. Dan aku pun sudah pernah memperlihatkan potongan rambutku yang rapi di tulisan Rambut Doraemon. Maka sekarang aku ingin menceritakan kepada kalian bahwa telah beberapa waktu rambutku ini tidak aku potong sehingga menjadi seperti ini:

Rambut Gondrong Ala Ahmad Albar
Rambut Gondrong Ala Ahmad Albar

Sudah banyak orang yang mengeluhkan potongan rambutku yang katanya berantakan ini. Sudah banyak pula yang nyaris muntah hanya dengan menatapnya lama-lama. Sudah banyak yang menyuruhku mencukurnya, bahkan ada yang mengiminginya dengan imbalan tertentu. Akan tetapi aku tetap bertahan. Aku inginkan kebebasan. Aku inginkan kemekaran. Maka, barangkali, rambutku akan bertahan seperti ini setidaknya sampai bulan depan. Semangat! :D

NB.
Beberapa orang mengatakan rambutku mirip rambut Ahmad Albar, Bang Haji, atau bahkan Giring Nidji. Akan tetapi, aku tetap berkomitmen bahwa aku mirip Mr. Satan!

Mr. Satan
Mister Satan (http://universaldragonball.wikia.com/wiki/Mr._Satan)

Rambut Doraemon

Dikarenakan banyaknya rikues alias permintaan untuk menampilkan foto rambut baruku yang sudah tidak Chrisye lagi, maka dengan malu-malu kucing bangga kupersembahkan foto berikut ini:

Farijsvanjava dan Kantong Doraemon
Farijsvanjava dan Kantong Doraemon

Bagaimana, Saudara? Semakin ganteng, bukan? :D Jadilah aku sekarang tidak perlu sisiran lagi. Hwehe.

Siang ini aku dikejutkan akan sebuah amplop cokelat besar di atas meja kerjaku. Tentu saja aku senang tak terkira, karena aku mendapatkan tambahan koleksi berupa dua prangko berikut ini:

Tambah koleksi #prangko #stamp

A photo posted by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Isi amplop tersebut tak lain tak bukan ialah tas kecil berbentuk Doraemon sebagaimana kutunjukkan dalam foto paling atas. Bagus sekali, bukan? Jadi di depannya berbentuk serupa perut Doraemon yang berkantong \kantongnya beneran kantong loh ya\ sementara di bagian belakang bergambar kepala Doraemon yang lucu.

Kepada pengirimnya, aku ucapkan terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas amal kebaikanmu. Dan tidak kekanak-kanakan kok mengirim barang semacam ini. Apapun barang pemberian, terlebih bertema Doraemon, tidaklah terlalu kekanak-kanakan dan akan kuterima dengan hati riang.

Batik

Barangkali hari ini hari-hariku penuh dengan batik. Serba batik.

1. Pakai baju batik:

Pulpen Parker Frontier-ku tersangkut di saku kemeja batik. Kalian lihat, kan, ujung klipnya masuk ke dalam jahitan di saku. Ujung anak panah yang menjadi khas pulpen Parker menusuk ke situ.

2. Membasahi map batik dengan tumpahan kopi:

Kopi tumpah #coffee #mess | Untung aku pakai kemeja #batik warna cokelat

A photo posted by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Aku sedang asyik memotong dan menempel kertas motif bunga-bunga di suatu bidang balok tadi pagi. Tak sengaja siku kiriku menyenggol gelas besar penuh kopi panas. Tumpahlah itu kopi. Haha.

3. Ke kota penghasil batik?

Kalau tak ada aral melintang dan gendala menghadang, malam ini aku berangkat ke salah satu kota penghasil batik. Sampai jumpa di sana, Saudara!

Puisi Ketimus

Jadi ceritanya aku sedang menganggut-anggut sendiri, membenarkan bahwa sekarang ide-ide sportif kreatif dalam hal berpuisi sudah banyak terkikis dari otak.

Lantas seorang kawan yang tidak perlu kita sebut namanya dan tunjuk batang hidungnya pun berkata bahwa menulis (puisi) adalah sebentuk cara untuk meluapkan emosi dan perasaan, dan apabila tidak punya emosi serta perasaan lebih baik tidak menulis (puisi) karena hasilnya akan jelek.

Karena pada siang tadi perasaanku adalah lapar dan emosi karena kelaparan, jadilah puisi ini:

Puisi ketimus #poem

A photo posted by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Tertulis seribu pesan untukmu
Aku menuliskannya pada daun pisang
Lalu kubungkus dan kukukus
Maka jadilah ketimus

Bagi yang belum tahu makhluk apakah gerangan ketimus itu, silakan penasaran. Seingatku ketimus adalah penganan yang dibungkus oleh daun pisang seperti halnya lemper. Hanya saja ketimus tidak terbuat dari ketan melainkan parutan singkong.

Cara membuatnya aku kira gampang, Saudara. Pertama-tama, carilah terlebih dahulu kebun singkong. Lantas pilih kira-kira mana yang singkongnya sudah matang. Kemudian cabut, ambil singkongnya, bersihkan. Setelah itu kupaslah hingga telanjang. Baru setelah itu singkong bisa diparut menggunakan parutan. Continue reading “Puisi Ketimus”