Perihal Nama Merek

Membaca sebuah artikel dari The Guardian berikut membuatku berpikir mengenai nama dan merek.

The Guardian: All Alphabet’s holdings have common names. What could go wrong?

Dulu sempat terpikirkan hal yang begitu juga. Mengapa orang sana sepertinya gitu banget dalam memberi nama. Semacam merek “Apple” yang secara umum adalah nama buah, yaitu apel. Ada juga “BlackBerry” yang juga nama buah. Kemudian yang paling terbaru yaitu “Alphabet”. Bukankah itu abjad?

Kalau orang kita, apakah ada yang berani menamai mereknya demikian? Kalau nama-nama semacam “Elang Perkasa”, “Kasih Ibu”, atau “Cap Capung” barangkali banyak kita jumpai sebagai nama toko atau nama merek. Akan tetapi, misalnya, adakah yang akan menamai tokonya dengan “Roti”? Atau memberi nama wartegnya “Kompor” atau “Tahu” misalnya?

“Apalah arti sebuah nama”. Itulah sebuah saduran dari kutipan orang sana yang terkenal. Barangkali itulah yang mendasari mereka menamai suatu merek secara gampangan. Nama-nama yang umum mereka jadikan nama merek.

Artikel dari The Guardian tadi menyebut semacam ketakutan bahwa ketika banyak merek yang mengambil dari kata-kata umum, maka ketika akan mencari sesuatu tentang kata umum di mesin pencari di internet akan muncul keterangan mengenai si merek, bukan kata umum yang dimaksud.

Lantas kemudian aku membaca artikel New York Times berikut ini:

Even in the New Alphabet, Google Keeps Its Capital G

Artikel di atas itu salah satunya membahas perkara generikisasi merek. Semacam yang kita temui di sini untuk kata “odol” untuk menyebut pasta gigi atau “honda” untuk sepeda motor. Di dunia sana (yang berbahasa linggis) ternyata lebih dulu terjadi generikisasi. Silakan lihat saja daftarnya di tautan berikut:

List of generic and genericized trademarks

Jadi ternyata ada kecemasan tersendiri akan pemakaian suatu kata umum menjadi sebuah merek, tetapi di sisi lain rupa-rupanya ada juga ancaman bahwa suatu merek dapat menjadi kata umum. Apa hal?

Inflasi Lebar Lebaran

Adalah sesuatu yang lazim, barangkali, apabila sehabis lebaran (Idulfitri) warung-warung makanan seakan berlomba-lomba menaikkan harga.

hatta, soekarno, buzz lightyear
Hatta, Soekarno dan Buzz Lightyear

Warung nasi goreng langgananku, misalnya, menaikkan harga seporsi nasi goreng ayam dari Rp11.000,00 menjadi Rp13.000,00 (naik 15% lebih). Warung gado-gado, menaikkan harga sebungkus gado-gado dari Rp10.000,00 menjadi Rp12.000,00 atau naik persis 20%.

Belum lagi warung padang yang menaikkan harga sebungkus nasi padang dengan lauk ayam goreng dan terong balado dari Rp13.000,00 menjadi Rp15.000,00. Itu artinya apa, Saudara? Kenaikannya lebih dari 13%!

Lain lagi dengan warteg alias warung tegal. Semua menunya dinaikkan rata-rata Rp1.000,00. Dari yang biasanya aku membeli seporsi nasi bungkus di situ seharga Rp10.000,00, maka sekarang untuk menu yang persis sama aku harus mengeluarkan tambahan uang dua ribu rupiah. Apa hal?!

Warung pecel lele? Sepiring nasi uduk dengan ayam goreng dan lalapan dari yang tadinya Rp12.000,00 menjadi Rp15.000,00! Belum berani saja aku mencoba ke warung mi aceh, barangkali naiknya harga lebih gila lagi mengingat ia pakai daging sapi yang mana pada beberapa hari belakangan daging sapi langka di pasaran, pembatasan impor, harganya melonjak tajam, para pedagangnya mogok, dsb.

Di Pekalongan, tempat kujalani masa kecilku, ada dikenal “harga lebaran”. Yaitu harga makanan memang sengaja dinaikkan berhubung hari raya. Beberapa hari sesudah hari raya, harga kembali normal. Tetapi di Jakarta ini, barangkali hanya di sini ini, harga naik sesudah lebaran adalah sebuah kemutlakan. Ia tidak akan pernah turun.

Tetapi janganlah kelamaan berkeluh kesah. Semangatlah, karena dengan begitu kita akan bekerja lebih giat hingga menaikkan jumlah rupiah yang kita dapat. :D

Kartu Utang dan Semangatisme

Jadi, Saudara, kemarin itu aku mendapat kiriman kartu kredit dari bank. Singkat cerita, langsung aku aktifkan dan langsung aku gunakan untuk meningkatkan akun (upgrade) blog ini menjadi premium. :D

Jadi sekarang blog ini resmi beralamatkan di http://semangatis.me. Sedangkan alamat yang lama, http://drjt.wordpress.com, masih juga berlaku.

image

Sudah lama aku ingin memiliki kartu kredit. Alasannya miris sebenarnya, yaitu karena ada beberapa transaksi (belanja) yang ingin kulakukan dan cara pembayarannya hanya bisa menggunakan kartu kredit (atau PayPal). Salah satu transaksi itu, ya, yaitu meng-upgrade blog ini. Dan sekarang mimpi sudah menjadi nyata…\berkat kantong ajaib\. Haha!

Sungguh, kartu ini hanya akan kugunakan sebagai media pembayaran, bukan media berutang. Jadi, punyakah Saudara kartu kredit? Kalau punya, untuk apa gerangan kartu kredit Saudara?

Oh ya, sedikit kabar. Kemarin hari ketika meriset perihal kartu kredit kutemui bahwa sekarang sudah ada kartu kredit yang konon kabarnya sesuai syariah (Islam)! Hasanah Card namanya. Menarik sekali, bukan, Saudara? Kalau memang dibutuhkan, barangkali suatu hari nanti aku bisa mendaftar untuk mendapatkan kartu itu agar bisa kugunakan sebagai media berutang. Hahai!

Solus

Baru tahu hari ini, kalau ada satu distro GNU/Linux yang tampaknya sedang naik daun \macam ulat\. Yakni distro yang bernama Solus, yang logonya unik dengan gambar semacam roket sebagai penggantu huruf “l” pada namanya. Barangkali nama Solus ini semacam parodi dari roket Soyuz (@ Wikipedia), ya?

Screenshot dari desktop Solus (solus-project.com).

Lihatlah tampilan dari sistem operasi Solus ini. Cantik, bukan?

Distro ini menggunakan Budgie desktop, yang kodenya ditulis dari nol alias bukan garpu-an dari proyek lain. Cantik sih, ya. Tetapi sepertinya masih dalam pengembangan yang intensif. Masih beta, jadi belum berani coba. Kita tunggu saja kabar baik selanjutnya.

Kabarnya distro ini dulu bernama “evolve os” yang entah bagaimana kemudian berganti nama menjadi Solus. Entah ada kaitannya dengan SolusOS yang sudah diskontinyu itu atau tidak, aku pun tidak tahu. Sepanjang hari ini belum kutemukan informasi terkait.

Jack Wallen di techrepublic.com menambahkan Solus di nomor empat pengganti alternatif dari sistem operasi Windows. Dan kalau di lihat di DistroWatch.com hari ini, Solus menduduki peringkat ke-39 urutan distro paling popular.

Solus di DistroWatch.com
Solus di DistroWatch.com

Walakin

image

Inilah mengapa aku masih lebih menyukai koran dibandingkan dengan situs berita internet: masih sering muncul kosakata yang masih asing dalam pergaulan.

Sekadar informasi, “walakin” dapat diartikan sebagai ‘walapun begitu’ atau ‘akan tetapi’.

(Gambar difoto dari koran Media Indonesia edisi 5 Agustus 2015 halaman 17)

Multitasking

image

‘Multitasking’ di era pesawat dan mobil bisa ‘nyetir’ sendiri seperti sekarang ini barangkali seperti yang sedang aku lakukan berikut ini:

Sambil duduk di Damri aku menelepon ibu sambil bermain #minecraft sambil posting tulisan di blog sambil secara otomatis ‘update’ status di Facebook sambil menyimak suara sumbang seorang pengamen menyanyikan lagu entah apa.

Seharusnya semua itu bisa kulakukan sembari mengunyah kudapan. Akan tetapi berhubung sekarang bulan Ramadan maka anjuran menghormati orang yang sedang berpuasa pun kulaksanakan dengan sepenuh hati.

Ada satu hal yang patut disayangkan, sungguh, yaitu semua kegiatan itu tidak bisa kulakukan sambil tidur apalagi sambil kayang.

Selamat mudik.